Masjid Ikhwanul Mukminin adalah salah satu masjid tua di kota Pontianak, dengan bangunan yang cukup megah yang terletak di tepian kota Pontianak tepatnya di Jl. Sungai Raya Dalam Kelurahan Bangka Belitung Darat Kecamatan Pontianak Tenggara Kalimantan Barat, Masjid ini merupakan salah satu Masjid kebanggaan warga masyarakat yang tinggal di daerah Sungai Raya Dalam, karena Masjid Ikhwanul Mukminin penuh dengan nilai Historis dan nilai prinsip kebersamaan dan semangat Gotong Royong. Seperti yang di tulis oleh H. M. Nur Hasan, SE dalam bukunya Membangun Media Amal Saleh (Selayang Pandang Masjid Ikhwanul Mukminin) Masjid ini adalah merupakan gambaran dari sebuah semangat Fastabiqul Khairat dan Nawaitu yang kuat dari seluruh jamaa’ah yang awalnya hanya sebuah Surau menjadi sebuah Masjid yang akhirnya diberi nama IKHWANUL MUKMININ.
Masjid ini didirikan pada tahun 1929-1930 dengan bermodalkan Rp 500, dan kayu-kayu yang berasal dari Tanjung Saleh ( milik H. Akil ) dari pembongkaran rumah yang telah dijualnya. Maka masjid dengan ukuran 12 x 12M2 itu dapat memuaskan hati para Muslim dan Muslimah pada saat itu yang haus akan Rumah Ibadah dan cinta terhadap Rumah Ibadah. Karena konon menurut cerita para Orang tua sebelum Masjid ini berdiri seluruh masyarakat Muslim Sungai Raya melaksanakan Ibadah Shalat Juma’at di Masjid Jamia’ yang berada di dekat keraton Kadariyah Pontianak dengan menggunakan sampan dan berjalan kaki. Keberangkatannya tersebut diiringi dengan membawa barang hasil kebun seperti pisang, ubi-ubian dan lain-lain untuk ditukar dengan keperluan rumah tangga yang lain. Oleh sebab itu, keberadaan Masjid Ikhwanul Mukminin ini sungguh berarti dan membantu bagi seluruh warga masyarakat Sungai Raya Dalam pada saat itu. Dan masyarakat sangat berterima kasih tak terhingga kepada pelopor pembangunan masjid tersebut, sehingga masyarakat Islam masih dapat merasakan hasil dari pengorbanan mereka pada saat itu.
Para Pendiri Masjid Ikhwanul Mukminin
1. H. Amboa’ Dengeng Bin Makkuaseng, seorang Penggawa yang berasal dari tanah Bugis yang kemudian mewaqafkan tanahnya untuk dijadikan Masjid tersebut.
2. H. Lintang, Imam pertama Masjid Ikhwanul Mukminin yang sekaligus mertua dari H. Ali Lakana
3. H. Thayyeb, salah satu pegawai Masjid
4. H. Husin Bin Basok.
5. H. Bacok
6. H. Muhammad / Wak Ledaa’
7. H. Palemai
8. Ustadz Rasyid Matanna
9. H. Zakaria H. Husin
10.H. Rani dan Putranya H. Bidin
11.H. Ali Lakana
Masjid Ikhwaul Mukminin ini telah mengalami empat kali pemugaran atau renovasi, dari tahun berdirinya 1929, kemudian rehab pertama pada tahun 1956 kemudian 1975 dan 1975. Selanjutnya pada tahun 1999 mengadakan renovasi total yang bertepatan pada tanggal 1 Muharam 1420 H / 16 April 1999 dengan peletakan batu pertama oleh salah satu pendiri Masjid Ikhwanul Mukminin yaitu Kakenda Tercinta H. Ali Lakana.
Masjid ini didirikan pada tahun 1929-1930 dengan bermodalkan Rp 500, dan kayu-kayu yang berasal dari Tanjung Saleh ( milik H. Akil ) dari pembongkaran rumah yang telah dijualnya. Maka masjid dengan ukuran 12 x 12M2 itu dapat memuaskan hati para Muslim dan Muslimah pada saat itu yang haus akan Rumah Ibadah dan cinta terhadap Rumah Ibadah. Karena konon menurut cerita para Orang tua sebelum Masjid ini berdiri seluruh masyarakat Muslim Sungai Raya melaksanakan Ibadah Shalat Juma’at di Masjid Jamia’ yang berada di dekat keraton Kadariyah Pontianak dengan menggunakan sampan dan berjalan kaki. Keberangkatannya tersebut diiringi dengan membawa barang hasil kebun seperti pisang, ubi-ubian dan lain-lain untuk ditukar dengan keperluan rumah tangga yang lain. Oleh sebab itu, keberadaan Masjid Ikhwanul Mukminin ini sungguh berarti dan membantu bagi seluruh warga masyarakat Sungai Raya Dalam pada saat itu. Dan masyarakat sangat berterima kasih tak terhingga kepada pelopor pembangunan masjid tersebut, sehingga masyarakat Islam masih dapat merasakan hasil dari pengorbanan mereka pada saat itu.
Para Pendiri Masjid Ikhwanul Mukminin
1. H. Amboa’ Dengeng Bin Makkuaseng, seorang Penggawa yang berasal dari tanah Bugis yang kemudian mewaqafkan tanahnya untuk dijadikan Masjid tersebut.
2. H. Lintang, Imam pertama Masjid Ikhwanul Mukminin yang sekaligus mertua dari H. Ali Lakana
3. H. Thayyeb, salah satu pegawai Masjid
4. H. Husin Bin Basok.
5. H. Bacok
6. H. Muhammad / Wak Ledaa’
7. H. Palemai
8. Ustadz Rasyid Matanna
9. H. Zakaria H. Husin
10.H. Rani dan Putranya H. Bidin
11.H. Ali Lakana
Masjid Ikhwaul Mukminin ini telah mengalami empat kali pemugaran atau renovasi, dari tahun berdirinya 1929, kemudian rehab pertama pada tahun 1956 kemudian 1975 dan 1975. Selanjutnya pada tahun 1999 mengadakan renovasi total yang bertepatan pada tanggal 1 Muharam 1420 H / 16 April 1999 dengan peletakan batu pertama oleh salah satu pendiri Masjid Ikhwanul Mukminin yaitu Kakenda Tercinta H. Ali Lakana.


0 comments:
Post a Comment